← Kembali ke Semua Artikel

RPP Kurikulum Merdeka Bikin Kepala Pening? Coba Cara Ini Dulu

Pernah Nggak Sih, Begadang Cuma Buat Nyusun RPP?

Jam sepuluh malam. Laptop masih menyala. Secangkir kopi sudah dingin di samping keyboard. Dan RPP untuk besok pagi... belum juga selesai.

Kalau kamu guru, situasi ini mungkin terasa familiar banget. Kurikulum Merdeka datang dengan janji fleksibilitas, tapi buat sebagian guru, justru bikin bingung. Formatnya beda dari yang biasa dipakai. Istilahnya baru. Belum lagi tuntutan untuk bikin pembelajaran yang "berdiferensiasi" dan "berpusat pada murid" — kedengarannya keren, tapi eksekusinya?

Nah, di artikel ini kita akan bongkar cara menyusun RPP Kurikulum Merdeka dengan cara yang jauh lebih santai. Bukan cuma teori kaku dari buku panduan, tapi langkah-langkah yang bisa langsung kamu praktikkan malam ini juga.

Buat orang tua muda yang penasaran kenapa sekolah anaknya sekarang beda gayanya, atau mahasiswa calon guru yang lagi belajar, artikel ini juga cocok buat kamu. Yuk, kita mulai.


Kenalan Dulu Sama RPP Kurikulum Merdeka

Sebelum lompat ke tips, ada baiknya kita samakan pemahaman dulu. RPP di Kurikulum Merdeka itu beda konsep dengan RPP zaman K13.

Kalau dulu RPP harus detail banget, bisa sampai belasan halaman untuk satu pertemuan, sekarang pemerintah justru mendorong guru bikin RPP yang lebih ringkas. Istilah resminya adalah Modul Ajar, meski RPP tetap boleh dipakai kalau sekolah belum siap pindah sepenuhnya.

Intinya, Kemendikbudristek ingin guru fokus ke esensi: apa yang mau dicapai murid, bukan sekadar formalitas administrasi yang menghabiskan waktu.

Bedanya dengan RPP Lama, Apa Sih?


Lebih fleksibel. Guru bebas memilih format, asal komponen intinya ada.
Lebih singkat. Nggak perlu lagi menulis ulang KI-KD secara panjang lebar.
Berpusat pada murid. Aktivitas dirancang berdasarkan kebutuhan belajar siswa, bukan sekadar mengejar target materi.
Ada konsep diferensiasi. Satu kelas, bisa jadi ada tiga jalur belajar berbeda tergantung kesiapan murid.


Kedengarannya lebih ringan, kan? Tapi justru di sinilah letak jebakannya. Karena "bebas", banyak guru malah bingung harus mulai dari mana.


Kenapa Guru Sering Kesulitan Bikin RPP Kurikulum Merdeka?

Coba bayangkan begini. Kamu dikasih kanvas kosong dan diminta melukis apa saja. Kedengarannya menyenangkan. Tapi buat orang yang terbiasa mengisi pola tertentu, kanvas kosong itu justru bikin bingung mau mulai dari sudut mana.

Itulah yang dialami banyak guru saat pertama kali menghadapi Kurikulum Merdeka. Kebebasan yang ditawarkan malah terasa seperti beban tambahan, apalagi kalau belum ada contoh konkret yang bisa dijadikan acuan.

Beberapa alasan umum kenapa proses ini terasa berat:


Bingung membedakan Capaian Pembelajaran (CP), Tujuan Pembelajaran (TP), dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP).
Belum terbiasa merancang asesmen diagnostik di awal pembelajaran.
Kesulitan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi untuk kelas dengan 30 lebih murid.
Waktu yang terbatas di sela jadwal mengajar yang padat.


Wajar kok kalau kamu merasa begitu. Yang penting sekarang, kita cari jalan keluarnya.


Langkah Praktis Menyusun RPP Kurikulum Merdeka

Anggap saja menyusun RPP itu seperti menyiapkan perjalanan road trip. Kamu butuh tahu tujuan akhirnya, rute yang mau dilewati, dan apa saja yang perlu dibawa supaya perjalanan lancar. RPP kerjanya mirip begitu.

1. Mulai dari Capaian Pembelajaran (CP)

CP itu semacam "peta besar" yang sudah disiapkan pemerintah untuk tiap fase. Tugas kamu bukan membuat CP dari nol, tapi memahami apa yang diharapkan tercapai di akhir fase tersebut.

Baca CP pelan-pelan. Garis bawahi kata kerja kuncinya — apakah muridnya diharapkan bisa "menganalisis", "menciptakan", atau sekadar "mengidentifikasi". Kata kerja ini nantinya jadi petunjuk seberapa dalam materi harus diajarkan.

2. Turunkan Jadi Tujuan Pembelajaran (TP)

Kalau CP itu peta besar, TP adalah titik-titik pemberhentian di sepanjang rute. TP harus lebih spesifik dan bisa diukur.

Contohnya begini. Kalau CP-nya "murid mampu memahami konsep ekosistem", TP bisa dipecah jadi:


Murid mampu menjelaskan komponen biotik dan abiotik dalam ekosistem.
Murid mampu menganalisis interaksi antar makhluk hidup dalam suatu rantai makanan.


Nggak perlu bikin TP terlalu banyak. Dua sampai tiga TP untuk satu topik biasanya sudah cukup padat.

3. Susun Alur Tujuan Pembelajaran (ATP)

ATP adalah urutan logis dari TP-TP yang sudah kamu buat. Bayangkan ini seperti anak tangga — murid nggak mungkin loncat ke tangga ketiga sebelum menapak tangga pertama dan kedua.

Susun TP dari yang paling sederhana ke yang lebih kompleks. Ini akan jadi kerangka besar buat seluruh rangkaian pembelajaran dalam satu semester.

4. Rancang Asesmen Diagnostik Dulu, Bukan Belakangan

Ini bagian yang sering dilewatkan. Banyak guru langsung merancang kegiatan belajar tanpa tahu dulu di mana posisi muridnya.

Padahal, asesmen diagnostik di awal itu penting banget. Cukup sederhana kok — bisa berupa kuis singkat, pertanyaan lisan, atau bahkan obrolan santai di awal kelas untuk mengetahui pemahaman awal siswa.

Dari situ, kamu baru bisa menentukan siapa yang butuh pendampingan ekstra dan siapa yang bisa langsung tantangan lebih tinggi.

5. Rancang Kegiatan Pembelajaran yang Berdiferensiasi

Nah, ini bagian yang sering bikin dahi berkerut. Diferensiasi bukan berarti kamu harus bikin tiga RPP terpisah untuk satu kelas. Cukup siapkan variasi dalam salah satu dari tiga aspek berikut:


Konten — materi yang diberikan bisa berbeda tingkat kedalamannya.
Proses — cara murid belajar, ada yang lewat diskusi kelompok, ada yang lewat video, ada yang lewat praktik langsung.
Produk — hasil akhir yang dikumpulkan, bisa berupa tulisan, presentasi, atau bahkan video pendek.


Contoh sederhana: dalam satu kelas IPA, murid yang sudah paham konsep bisa langsung eksperimen mandiri, sementara yang masih meraba-raba bisa dipandu lewat lembar kerja terstruktur.

6. Tentukan Asesmen Akhir yang Relevan

Asesmen di akhir pembelajaran nggak melulu harus tes tertulis. Kurikulum Merdeka justru mendorong variasi bentuk penilaian.

Beberapa pilihan yang bisa kamu coba:


Proyek kelompok kecil.
Presentasi sederhana di depan kelas.
Portofolio kumpulan karya selama satu semester.
Refleksi tertulis singkat dari murid sendiri.


Pilih bentuk asesmen yang paling pas dengan tujuan pembelajaran, bukan yang paling gampang dinilai buat gurunya saja.


Tips Biar Proses Menyusun RPP Nggak Bikin Stres

Selain langkah teknis di atas, ada beberapa kebiasaan kecil yang bisa bikin proses ini jauh lebih ringan.

Manfaatkan Platform Merdeka Mengajar. Di sana sudah tersedia banyak contoh modul ajar dari guru lain di seluruh Indonesia. Nggak perlu bikin dari nol, cukup adaptasi sesuai kebutuhan kelasmu.

Kerja bareng rekan sejawat. Diskusi dengan guru mata pelajaran sama, meski beda sekolah, sering menghasilkan ide segar yang nggak kepikiran sendirian.

Simpan template dasar. Setelah bikin satu RPP yang oke, simpan strukturnya sebagai template. Topik berikutnya tinggal disesuaikan isinya, nggak perlu mulai dari halaman kosong lagi.

Jangan kejar kesempurnaan di percobaan pertama. RPP itu dokumen hidup, bisa direvisi setelah dipraktikkan. Kalau ternyata di kelas caranya kurang efektif, ya tinggal diperbaiki untuk pertemuan berikutnya.


Buat Orang Tua, Kenapa Ini Perlu Kamu Tahu?

Mungkin kamu bertanya, "Aku kan bukan guru, ngapain baca soal RPP segala?"

Justru dengan memahami logika di balik RPP Kurikulum Merdeka, Bunda dan Ayah jadi lebih mudah memahami kenapa cara belajar anak di sekolah sekarang terasa beda. Kenapa anak lebih sering diskusi kelompok ketimbang mencatat. Kenapa nilai ujian bukan satu-satunya tolok ukur keberhasilan.

Dengan pemahaman ini, komunikasi antara orang tua dan guru soal perkembangan anak juga bisa jadi lebih nyambung.


Penutup: RPP Bukan Sekadar Dokumen Administratif

Pada akhirnya, RPP Kurikulum Merdeka bukan cuma soal memenuhi kewajiban administrasi sekolah. Ini adalah alat bantu supaya proses belajar-mengajar punya arah yang jelas, sekaligus tetap fleksibel mengikuti kebutuhan murid yang beragam.

Memang butuh waktu untuk terbiasa. Tapi begitu polanya sudah kamu pahami, menyusun RPP bisa jadi jauh lebih cepat dan nggak lagi terasa seperti beban tambahan di tengah jadwal mengajar yang sudah padat.

Kalau kamu seorang guru, gimana pengalamanmu selama ini menyusun RPP Kurikulum Merdeka? Ada kesulitan tertentu yang masih bikin bingung? Yuk, ceritakan di kolom komentar — siapa tahu ada sesama guru yang bisa saling berbagi solusi.